Si Kecil Mulai Aktif? Tips Hadapi Fase Toddler dengan Teknik Montessori yang Tenang

  • Home
  • Si Kecil Mulai Aktif? Tips Hadapi Fase Toddler dengan Teknik Montessori yang Tenang
Shape Image One

Memasuki fase usia dua hingga tiga tahun, atau yang sering disebut sebagai masa toddler, adalah petualangan baru yang penuh warna sekaligus tantangan bagi setiap orang tua. Pada masa ini, anak mulai menyadari otonomi dirinya, yang sering kali ditandai dengan ledakan emosi atau keinginan untuk melakukan segala sesuatu sesuai kehendaknya sendiri. Banyak orang tua merasa kewalahan menghadapi energi yang meluap-luap dan perubahan suasana hati yang drastis pada anak usia ini. Namun, dengan menggunakan teknik dari pendekatan Montessori, kita dapat mengubah masa yang tampak kacau ini menjadi periode pembelajaran yang tenang dan penuh makna bagi pertumbuhan karakter si kecil.

Kunci utama dalam menghadapi seorang toddler adalah memahami bahwa mereka sedang berada dalam “masa peka” untuk keteraturan dan kemandirian. Ledakan emosi atau tantrum sering kali terjadi bukan karena anak ingin nakal, melainkan karena mereka merasa frustrasi saat tidak bisa mengomunikasikan keinginannya atau saat lingkungan di sekitar mereka terasa tidak dapat diprediksi. Dalam teknik Montessori, kita diajak untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kebutuhan eksplorasi mereka. Dengan menyediakan zona bermain yang aman dan mudah diakses, kita memberikan kesempatan bagi anak untuk menyalurkan energinya secara positif, sehingga frekuensi konflik antara orang tua dan anak dapat berkurang secara signifikan.

Salah satu tips penting untuk menghadapi fase toddler yang aktif adalah dengan memberikan pilihan yang terbatas. Alih-alih memberikan perintah satu arah yang sering kali memicu penolakan, cobalah berikan dua pilihan yang sama-sama dapat diterima. Misalnya, “Kamu mau pakai baju yang biru atau yang merah?” atau “Kita mau merapikan mainan sekarang atau lima menit lagi?”. Memberikan pilihan memberikan rasa kendali pada anak, yang sangat penting untuk perkembangan ego mereka pada tahap ini. Saat anak merasa suaranya didengar, mereka akan cenderung lebih kooperatif dan merasa dihargai, yang pada akhirnya menciptakan suasana rumah yang lebih damai tanpa perlu banyak perdebatan.

Selain itu, sangat penting bagi orang tua untuk mengelola ekspektasi dan tetap tenang saat menghadapi perilaku menantang dari seorang toddler. Dalam Montessori, kita diajarkan untuk merespons bukan bereaksi. Saat anak melakukan kesalahan atau menumpahkan sesuatu, gunakan momen tersebut sebagai kesempatan belajar daripada memberikan amarah. Ajak anak untuk ikut serta membersihkan tumpahan tersebut dengan alat yang sesuai ukurannya. Tindakan ini mengajarkan tanggung jawab tanpa rasa takut. Ketika orang tua mampu tetap tenang dan menunjukkan empati, anak belajar untuk meregulasi emosinya sendiri dengan melihat contoh nyata dari orang dewasa di sekitarnya.

Aktivitas fisik yang melibatkan otot besar juga sangat krusial bagi anak usia toddler yang sedang aktif-aktifnya. Pastikan anak memiliki cukup waktu untuk bergerak bebas, baik itu berlari di taman, memanjat, atau melakukan permainan keseimbangan. Gerakan fisik bukan hanya tentang membakar energi, tetapi juga tentang mengoordinasikan otak dan tubuh. Dalam Montessori, aktivitas yang melatih koordinasi motorik kasar ini membantu anak menjadi lebih tenang dan fokus saat mereka kembali ke dalam ruangan. Anak yang kebutuhan fisiknya terpenuhi akan memiliki kualitas tidur yang lebih baik dan suasana hati yang lebih stabil sepanjang hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *