Bagi sebagian besar orang dewasa, bermain sering kali dianggap sebagai kegiatan pengisi waktu luang atau sekadar sarana hiburan bagi anak-anak. Namun, dalam dunia pendidikan anak usia prasekolah, bermain adalah instrumen utama dalam proses perkembangan kognitif, sosial, dan emosional. Metode Montessori secara spesifik memandang bermain bukan sebagai aktivitas semu, melainkan sebagai “pekerjaan” serius bagi anak. Melalui interaksi dengan berbagai material yang dirancang khusus, anak-anak sebenarnya sedang membangun fondasi kecerdasan mereka. Memahami mengapa bermain adalah bentuk pembelajaran terbaik bagi anak usia dini akan membantu orang tua dan pendidik memberikan dukungan yang lebih tepat bagi masa depan mereka.
Di usia prasekolah, otak anak memiliki plastisitas yang luar biasa, di mana mereka menyerap informasi dari lingkungan sekitar seperti spons. Dalam pendekatan Montessori, bermain yang bermakna terjadi ketika anak diberikan kebebasan untuk bereksplorasi secara mandiri. Misalnya, saat seorang anak bermain dengan pink tower atau susunan balok, mereka tidak hanya sekadar menumpuk benda. Mereka sedang mempelajari konsep matematis tentang dimensi, volume, dan keseimbangan. Proses ini melibatkan koordinasi mata dan tangan yang sangat halus, yang merupakan persiapan tidak langsung untuk keterampilan menulis nantinya. Dengan demikian, kegiatan yang terlihat sederhana sebenarnya adalah sebuah stimulasi intelektual yang kompleks.
Aspek lain yang membuat metode ini sangat penting bagi anak usia prasekolah adalah pengembangan fokus dan konsentrasi. Dalam dunia yang penuh dengan gangguan digital di tahun 2026 ini, kemampuan untuk berkonsentrasi pada satu tugas adalah keterampilan yang langka. Dalam lingkungan Montessori, anak-anak dibiarkan bermain dengan satu alat peraga tanpa gangguan dalam waktu yang lama. Ketika seorang anak asyik menuangkan air dari satu wadah ke wadah lain, mereka sedang melatih ketekunan dan kontrol diri. Pembelajaran yang terjadi secara alami melalui permainan ini jauh lebih efektif dibandingkan instruksi klasikal yang memaksa anak duduk diam untuk mendengarkan ceramah guru.
Pentingnya bermain di usia prasekolah juga berkaitan erat dengan perkembangan keterampilan sosial dan empati. Dalam kelas Montessori yang sering kali terdiri dari berbagai tingkatan usia, anak-anak belajar untuk saling membantu, mengantre, dan menghargai hak orang lain atas sebuah mainan. Interaksi ini mengajarkan mereka tentang etika komunitas dan komunikasi efektif sejak dini. Bermain peran atau bekerja sama dalam sebuah proyek kecil membantu anak memahami perspektif orang lain. Kecerdasan emosional yang dibangun melalui interaksi bermain ini akan menjadi modal utama mereka saat memasuki jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi dan berinteraksi dalam masyarakat luas.
Selain itu, metode ini mendorong rasa ingin tahu yang tak terbatas. Anak-anak yang diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi minatnya saat bermain akan memiliki kecintaan terhadap belajar yang bertahan seumur hidup. Di tingkat prasekolah, tujuan utamanya bukan untuk menghafal fakta, melainkan untuk membangun mentalitas “belajar bagaimana cara belajar”. Ketika anak menemukan jawaban atas rasa penasaran mereka melalui percobaan langsung saat bermain, rasa percaya diri mereka akan tumbuh. Mereka menyadari bahwa dunia adalah tempat yang menarik untuk dipelajari, dan mereka memiliki kemampuan untuk menaklukkan tantangan melalui usaha mereka sendiri.