Dunia pendidikan anak usia dini terus mengalami perkembangan, namun satu metode yang tetap relevan dan semakin diminati hingga tahun 2026 adalah pendekatan yang diperkenalkan oleh Maria Montessori. Metode ini bukan sekadar tentang alat permainan kayu yang estetik, melainkan sebuah filosofi mendalam tentang menghargai potensi alami anak. Salah satu sosok yang menjadi inspirasi dalam penerapan praktis metode ini adalah Ms Mari, seorang pendidik yang berhasil membuktikan bahwa kemandirian anak bisa dibentuk sejak dini melalui lingkungan yang dipersiapkan dengan matang. Dengan memahami prinsip Montessori, orang tua dapat membantu anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu mengandalkan diri sendiri.
Prinsip utama yang ditekankan oleh Ms Mari dalam menerapkan Montessori adalah konsep “Follow the Child” atau mengikuti minat alami anak. Sering kali, orang tua merasa perlu untuk selalu mengarahkan setiap gerak-gerik anak, padahal intervensi yang berlebihan justru dapat mematikan inisiatif mereka. Dalam lingkungan yang didesain secara khusus, anak diberikan kebebasan untuk memilih aktivitas yang mereka sukai. Kebebasan ini bukan berarti tanpa aturan, melainkan kebebasan di dalam batasan yang terstruktur. Saat anak dipercaya untuk memilih kegiatannya sendiri, mereka belajar tentang pengambilan keputusan dan konsekuensi, yang merupakan fondasi dasar dari kemandirian emosional.
Salah satu aspek praktis yang sering dibagikan oleh Ms Mari adalah pentingnya “Practical Life Activities” atau kegiatan kehidupan praktis. Dalam metode Montessori, melibatkan anak dalam tugas rumah tangga sederhana seperti menyiram tanaman, menyiapkan meja makan, atau melipat pakaian sendiri adalah bentuk latihan motorik dan tanggung jawab yang luar biasa. Ms Mari menyarankan agar peralatan yang digunakan disesuaikan dengan ukuran tubuh anak (child-sized). Dengan rak yang rendah dan alat yang ringan, anak tidak perlu terus-menerus meminta bantuan orang dewasa untuk melakukan hal-hal kecil. Rasa “saya bisa melakukannya sendiri” inilah yang membangun harga diri anak secara permanen.
Selain lingkungan fisik, Ms Mari juga menyoroti peran orang dewasa sebagai pengamat, bukan instruktur. Dalam pendekatan Montessori, orang tua didorong untuk lebih banyak mengamati tanpa terburu-buru membantu saat anak terlihat sedikit kesulitan. Proses perjuangan kecil saat anak mencoba memasukkan kancing baju atau menyusun balok adalah saat di mana sinapsis otak mereka bekerja paling keras. Jika kita selalu mengambil alih tugas tersebut, kita secara tidak langsung mengirimkan pesan bahwa mereka tidak mampu. Dengan memberikan ruang bagi anak untuk mencoba dan melakukan kesalahan, kita sebenarnya sedang melatih ketahanan mental mereka dalam menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan.
Ms Mari juga menekankan bahwa kemandirian tidak terjadi dalam semalam, melainkan melalui rutinitas yang konsisten. Dalam pendidikan Montessori, konsistensi membantu anak merasa aman karena mereka tahu apa yang diharapkan dari mereka. Lingkungan yang tertata rapi, di mana setiap barang memiliki tempatnya sendiri, membantu anak membangun struktur berpikir yang logis. Saat anak terbiasa mengembalikan mainan ke tempat asalnya setelah digunakan, mereka tidak hanya belajar tentang kerapian, tetapi juga tentang rasa hormat terhadap lingkungan dan barang milik mereka. Ini adalah bentuk disiplin internal yang jauh lebih efektif daripada hukuman atau perintah paksa.